Jenazah PMI NTT dipulangkan dari Malaysia terus bertambah setiap tahun. Dalam kurun 2017 hingga 2026, lebih dari seribu peti mati telah tiba di bandara El Tari Kupang dan pelabuhan-pelabuhan kecil di Flores, Timor, dan Sumba — membawa duka keluarga yang menunggu kabar dari negeri orang.
Alarm Kemanusiaan: 124 Jenazah PMI NTT Per Tahun
Angka 1.114 jenazah dalam sembilan tahun bukan sekadar statistik. Rata-rata 124 pekerja migran asal NTT pulang dalam kondisi meninggal dunia setiap tahunnya.
Hal itu disampaikan Anggota Komisi XIII DPR RI, Umbu Kabunang Rudi Yanto Hunga, dalam Rapat Dengar Pendapat bersama Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Senin 25 Mei 2026 lalu.
“Kalau setiap tahun lebih dari 124 warga kita pulang dalam bentuk jenazah, ini bukan lagi angka statistik biasa. Ini alarm kemanusiaan,” tegas Umbu Rudi.
Dua Juta PMI Hidup Tanpa Dokumen di Malaysia
Di balik angka kematian itu tersimpan masalah yang jauh lebih besar. Diperkirakan 2 hingga 3 juta WNI kini berada di Malaysia. Sekitar 1 hingga 1,5 juta tercatat sebagai pekerja legal — sisanya hidup sebagai pekerja non-prosedural tanpa dokumen lengkap atau berstatus overstay.
Yang lebih mengkhawatirkan, data antar lembaga tidak sinkron. KPU mencatat sekitar 800 ribu WNI di Malaysia, sementara kedua pemerintah yakni Indonesia dan Malaysia menyebut angka 2,1 juta.
“Kalau versi KPU hanya 800 ribu, lalu sisanya ini siapa? Berarti ada begitu banyak warga negara Indonesia yang sudah tidak memiliki data, masuk kategori ilegal, bahkan ada yang menjadi stateless,” ujar Umbu Rudi.
Kata stateless bukan sekadar istilah birokrasi. Itu berarti seseorang kehilangan pengakuan kewarganegaraan dari negara mana pun — tanpa identitas, tanpa perlindungan, tanpa jalan pulang yang resmi.
Kenapa PMI NTT Terus Berangkat Ilegal ke Malaysia?
Akar masalahnya sederhana namun berat: kemiskinan. Banyak warga NTT berangkat menggunakan paspor wisata, lalu bekerja secara ilegal di perkebunan sawit, proyek konstruksi, rumah tangga, hingga restoran di Malaysia.
Mereka bertahan bertahun-tahun tanpa dokumen. Saat sakit, kecelakaan kerja, atau meninggal dunia — keluarga di kampung baru tahu setelah peti jenazah tiba.
Umbu Rudi menegaskan bahwa pendekatan deportasi dan penindakan saja tidak cukup.
“Kalau ada dua juta lebih warga negara kita hidup tanpa perlindungan, ini bukan sekadar pelanggaran administrasi. Ini tragedi kemanusiaan.”
DPR Dorong Legalisasi PMI Ilegal dan Paspor di Malaysia
Umbu Rudi mendorong pemerintah Indonesia dan Malaysia memberikan legalitas hukum kepada seluruh WNI yang masuk secara ilegal dan tidak memiliki dokumen kependudukan.
Ia juga mengusulkan pelayanan paspor langsung di Malaysia — karena banyak PMI non-prosedural tidak bisa pulang hanya untuk mengurus perpanjangan dokumen.
“Tidak mungkin mereka disuruh pulang dulu ke Indonesia untuk mengurus paspor. Mereka tidak bisa keluar dari Malaysia karena tidak punya dokumen.”
Lebih jauh, ia mengajak Komisi XIII DPR RI melakukan kunjungan kerja bersama ke Malaysia untuk membangun kesepakatan bilateral soal perlindungan PMI.
Paspor Wisata Jadi Celah, Imigrasi Diminta Perketat
Rudi juga menyoroti lemahnya pengawasan di pintu keberangkatan. Ia meminta Dirjen Imigrasi memperketat verifikasi agar paspor wisata tidak disalahgunakan untuk bekerja di luar negeri.
“Paspor wisata dan paspor kerja harus bisa dibedakan secara ketat sejak awal. Imigrasi adalah palang pintu pertama dan terakhir.”
Solusi Jangka Panjang: Gerakkan Ekonomi NTT dari Bawah
Penyelesaian masalah jenazah PMI NTT yang dipulangkan dari Malaysia tidak bisa hanya dilakukan di negara tujuan. Akar terbesarnya tetap ada di daerah asal — kemiskinan, rendahnya pendidikan, dan minimnya lapangan kerja.
Umbu Rudi meminta pemerintah pusat memberi perhatian lebih besar kepada NTT melalui program di sektor pertanian, peternakan, dan pendidikan.
“Saya mengajak Bapak Presiden Prabowo melihat NTT agar tidak terus menjadi produsen korban TPPO.”
Selama akar persoalan itu belum diselesaikan, peti-peti jenazah dari negeri jiran dikhawatirkan akan terus berdatangan ke kampung-kampung di Nusa Tenggara Timur.




