Selama ini Program Keluarga Harapan (PKH) dikenal sebagai salah satu program bantuan sosial terbesar di Indonesia. PKH ditujukan untuk membantu keluarga miskin memenuhi kebutuhan dasar. Namun, apakah bantuan sosial cukup hanya menjaga masyarakat tetap bertahan? atau justru harus mampu mengantarkan mereka menjadi lebih mandiri dan produktif? Pertanyaan inilah yang kemudian menghasilkan sebuah tawaran model baru PKH dari doktor baru UI Adhi Karyono.
Pertanyaan tersebut menjadi fokus disertasi yang mengantarkannya meraih gelar doktor. Dari Departemen Ilmu Kesejahteraan Sosial, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia (FISIP UI). Sidang promosi doktor dilangsungkan Kamis, 9 Juli 2026. Adhy berhasil mempertahankan disertasi berjudul Dari Bantuan Sosial ke Warga Negara Produktif: Program Keluarga Harapan sebagai Investasi Sosial.
Penelitian ini menawarkan perspektif baru mengenai masa depan Program Keluarga Harapan (PKH). Bantuan sosial tidak lagi dipandang semata sebagai pengeluaran negara untuk mengurangi kemiskinan, melainkan sebagai investasi sosial yang mampu meningkatkan kualitas sumber daya manusia sekaligus memperkuat kemampuan warga negara untuk mandiri. Dalam perspektif kewarganegaraan, perlindungan sosial bukan sekadar pemberian bantuan, melainkan bagian dari upaya negara memastikan setiap warga memiliki kesempatan yang setara untuk berpartisipasi dalam kehidupan ekonomi dan sosial.
Dari Bantuan Sosial Menuju Investasi Sosial
Dalam beberapa dekade terakhir, banyak negara mulai mengubah paradigma perlindungan sosial. Jika sebelumnya bantuan sosial berfungsi terutama sebagai jaring pengaman bagi masyarakat miskin, kini semakin berkembang pandangan bahwa kebijakan sosial juga harus menjadi investasi jangka panjang bagi pembangunan manusia.
Melalui penelitian kualitatif di Kabupaten Bogor, Adhy melakukan wawancara mendalam dengan keluarga penerima manfaat PKH, pendamping sosial, serta berbagai pemangku kepentingan. Analisis dilakukan menggunakan kerangka investasi sosial yang mencakup tiga fungsi utama:
- Buffer, yaitu melindungi masyarakat dari guncangan ekonomi dan menjaga daya beli.
- Flow, yaitu membantu meningkatkan kesempatan kerja, pendapatan, dan mobilitas ekonomi.
- Stock, yaitu membangun kualitas sumber daya manusia melalui pendidikan, kesehatan, dan peningkatan kapasitas.
Pendekatan ini memungkinkan evaluasi PKH tidak hanya berdasarkan besarnya bantuan yang disalurkan, tetapi juga dampaknya terhadap kehidupan penerima manfaat dalam jangka panjang.
PKH Berhasil Melindungi, Tetapi Belum Sepenuhnya Mendorong Mobilitas Ekonomi
Penelitian menunjukkan bahwa selama hampir dua puluh tahun pelaksanaannya, Program Keluarga Harapan telah berhasil menjalankan fungsi perlindungan sosial. PKH terbukti membantu keluarga miskin mempertahankan daya beli serta mengurangi dampak berbagai krisis ekonomi.
Namun demikian, penelitian juga menemukan bahwa fungsi pemberdayaan ekonomi belum berjalan secara optimal.
Bantuan yang diterima keluarga penerima manfaat belum selalu mampu mendorong mereka memperoleh pekerjaan yang lebih baik atau meningkatkan mobilitas ekonomi secara berkelanjutan. Dengan kata lain, PKH cukup efektif sebagai instrumen perlindungan, tetapi masih menghadapi tantangan untuk menghasilkan transformasi ekonomi yang lebih kuat.
Perlindungan Sosial dan Produktivitas Harus Berjalan Bersama
Menurut Adhy, perubahan arah kebijakan sosial perlu dilakukan secara hati-hati. Fokus pada produktivitas memang penting, tetapi tidak boleh mengurangi fungsi dasar perlindungan sosial.
“Transformasi PKH perlu diikuti dengan penguatan sistem perlindungan sosial yang tidak hanya berorientasi pada peningkatan produktivitas, tetapi juga tetap menjamin pemenuhan hak-hak dasar masyarakat.”
Karena itu, bantuan sosial sebaiknya diposisikan sebagai investasi sosial yang memperkuat kesejahteraan masyarakat tanpa menghilangkan perlindungan bagi kelompok rentan.
Pendekatan tersebut menjadi penting karena tidak semua keluarga memiliki titik awal yang sama. Sebagian masyarakat masih memerlukan perlindungan jangka panjang, sementara sebagian lainnya membutuhkan dukungan untuk meningkatkan keterampilan, pendidikan, dan kesempatan kerja.
Model Baru PKH yang Lebih Seimbang
Sebagai kontribusi akademik, disertasi ini merumuskan model Conditional Cash Transfer (CCT) yang disesuaikan dengan kondisi Indonesia.
Model tersebut menempatkan bantuan sosial sebagai instrumen yang memiliki dua tujuan sekaligus, yaitu:
- melindungi masyarakat dari kemiskinan dan kerentanan;
- meningkatkan kualitas sumber daya manusia agar lebih produktif dan mandiri.
Dengan pendekatan tersebut, keberhasilan PKH tidak lagi hanya diukur dari jumlah keluarga yang menerima bantuan, tetapi juga dari kemampuan program mendorong penerima manfaat keluar dari kemiskinan secara berkelanjutan.
Model Baru PKH dan Masa Depan Kebijakan Sosial Indonesia
Temuan disertasi ini memberikan pesan penting bahwa penguatan sistem perlindungan sosial tidak cukup dilakukan melalui perluasan jumlah penerima bantuan. Yang tidak kalah penting adalah bagaimana kebijakan mampu menghubungkan perlindungan sosial dengan peningkatan kapasitas manusia.
Pendekatan investasi sosial menawarkan jalan tengah antara perlindungan dan pemberdayaan. Negara tetap hadir melindungi warga yang rentan, tetapi sekaligus menciptakan kondisi agar mereka memiliki kesempatan menjadi lebih produktif, mandiri, dan mampu meningkatkan kesejahteraannya sendiri.
Di tengah tantangan kemiskinan, perubahan struktur pasar kerja, dan kebutuhan pembangunan sumber daya manusia, gagasan ini dapat menjadi salah satu referensi penting dalam pengembangan kebijakan sosial Indonesia pada masa mendatang.




