118 tahun! Usia ini tercatat sebagai salah satu yang tertinggi dalam data kependudukan Indonesia. Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) mengungkap adanya warga yang mencapai usia tersebut dalam rilis Data Kependudukan Bersih Semester II Tahun 2025.
Direktur Jenderal Dukcapil Teguh Setyabudi menyebutkan bahwa salah satu penduduk di Bangkalan tercatat berusia 118 tahun, sementara warga lain di Pamekasan mencapai usia 117 tahun. Dikutip dari pernyataan Teguh saat rilis di Hotel Bidakara Jakarta, 12 Maret 2026 lalu, ia menyatakan bahwa “Data ini sudah kami cek langsung melalui Dukcapil daerah.”
Temuan ini menjadi salah satu fakta menarik di tengah gambaran besar demografi Indonesia yang didominasi usia produktif.
118 Tahun: Harapan Hidup dan Tantangan Kesehatan
Keberadaan penduduk dengan usia sangat lanjut tersebut tidak otomatis menunjukkan adanya peningkatan signifikan harapan hidup masyarakat Indonesia. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa umur harapan hidup penduduk Indonesia pada 2025 mencapai 74,47 tahun.
Angka ini meningkat dibandingkan tahun sebelumnya dan melanjutkan tren kenaikan sejak beberapa tahun terakhir. Artinya, secara umum masyarakat Indonesia hidup lebih lama dibandingkan generasi sebelumnya. Namun, usia 118 tahun jelas jauh melampaui rata-rata tersebut.
Namun, di sisi lain, peningkatan usia harapan hidup juga diiringi dengan tantangan kesehatan, terutama penyakit tidak menular. Data layanan kesehatan menunjukkan bahwa penyakit seperti diabetes (kencing manis) dan hipertensi menjadi salah satu penyumbang terbesar dalam klaim layanan kesehatan nasional. Kondisi ini menunjukkan bahwa meskipun masyarakat hidup lebih lama, kualitas kesehatan di usia lanjut tetap menjadi tantangan serius.
Bonus Demografi dan Penuaan Penduduk
Dalam rilis yang sama, Dukcapil mencatat bahwa sekitar 69 persen penduduk Indonesia berada pada usia produktif (15–64 tahun).
Namun, seiring waktu, Indonesia juga akan menghadapi fenomena penuaan penduduk (aging population), di mana proporsi lansia akan terus meningkat.
Hal ini menuntut kesiapan sistem kesehatan, jaminan sosial, serta kebijakan publik yang lebih responsif terhadap kebutuhan lansia.
Pentingnya Data Kependudukan
Dirjen Dukcapil menegaskan bahwa data kependudukan memiliki peran penting dalam membaca dinamika tersebut.
Mulai dari perencanaan layanan kesehatan, program jaminan sosial, hingga kebijakan pembangunan, semuanya membutuhkan data yang akurat dan mutakhir.
“Data kependudukan digunakan untuk berbagai keperluan, termasuk pelayanan publik, perencanaan pembangunan, hingga penegakan kebijakan,” kata Teguh.
Lebih dari Sekadar Angka 118 Tahun
Di balik angka usia 118 tahun, tersimpan cerita panjang tentang kehidupan, perubahan zaman, dan ketahanan individu.
Data ini bukan sekadar statistik, tetapi juga pengingat bahwa pembangunan tidak hanya soal pertumbuhan, melainkan juga tentang bagaimana negara memastikan warganya dapat hidup lebih lama dengan kualitas hidup yang baik.




