loader image
021- 2510670
sekretariat@yayasan-iki.or.id

Dua Belas Kecakapan yang Dibutuhkan Anak pada Abad Ke-21

14 views
Dua Belas Kecakapan yang Dibutuhkan Anak pada Abad ke-21.
Dua Belas Kecakapan Yang Dibutuhkan Anak pada Abad ke-21 (Ilustrasi: Chat GPT)
Facebook
Twitter
WhatsApp
Email

Artikel ini merupakan bagian pertama dari sepuluh tulisan dalam Seri Membaca Laporan UNICEF. Seri ini mengulas laporan Life Skills and Citizenship Education Initiative—Assessment Instruments: Field Trial Report, yang diterbitkan pada Maret 2026. Tulisan pertama memperkenalkan dua belas kecakapan hidup dan kewarganegaraan bagi anak serta alasan pendidikan abad ke-21 tidak dapat hanya mengandalkan pengetahuan akademik.

Anak-anak pergi ke sekolah untuk belajar membaca, menulis, berhitung, dan memahami berbagai cabang ilmu pengetahuan. Namun, apakah bekal tersebut sudah cukup untuk menghadapi kehidupan pada abad ke-21?

Seorang anak mungkin memperoleh nilai tinggi dalam ujian, tetapi kesulitan bekerja sama. Ia dapat menghafal banyak informasi, tetapi belum terbiasa memeriksa apakah informasi itu benar. Anak lainnya mungkin mampu menyelesaikan soal matematika, tetapi tidak tahu bagaimana menyampaikan pendapat, mengambil keputusan, atau menghadapi kegagalan.

Persoalan itulah yang menjadi perhatian laporan Life Skills and Citizenship Education Initiative—Assessment Instruments: Field Trial Report. Laporan setebal 478 halaman tersebut disusun oleh UNICEF bersama International Association for the Evaluation of Educational Achievement (IEA), University of Roehampton, dan National Foundation for Educational Research (NFER).

Laporan ini membahas pengembangan instrumen untuk mengukur dua belas kecakapan hidup dan kewarganegaraan. Instrumen tersebut diuji kepada pelajar berusia 12–14 tahun, atau setara dengan kelas VII dan VIII, di Mesir, Palestina, dan Tunisia.

Namun, laporan ini bukan pemeringkatan kemampuan anak di ketiga negara tersebut. Fokusnya adalah memastikan apakah berbagai kecakapan hidup yang selama ini terdengar abstrak dapat didefinisikan dan diukur secara layak.

Pendidikan Menghadapi Dunia yang Berubah

Perhatian terhadap kecakapan hidup muncul dari kesadaran bahwa dunia yang dihadapi anak-anak terus berubah. Mereka tumbuh di tengah perkembangan teknologi, perubahan dunia kerja, banjir informasi, konflik sosial, dan masyarakat yang semakin beragam.

Pengetahuan akademik tetap penting, tetapi anak juga memerlukan kemampuan untuk menggunakan pengetahuan tersebut dalam kehidupan nyata. Mereka perlu mampu menimbang informasi, memahami orang lain, bekerja dalam kelompok, menyelesaikan persoalan, dan mengambil bagian dalam kehidupan bersama.

Kerangka Life Skills and Citizenship Education atau LSCE yang dikembangkan UNICEF menempatkan pendidikan sebagai proses yang berlangsung sepanjang hayat. Belajar tidak hanya terjadi di ruang kelas, tetapi juga melalui keluarga, pergaulan, komunitas, dunia digital, dan berbagai pengalaman sehari-hari.

Dalam kerangka tersebut, terdapat dua belas kecakapan utama yang dikelompokkan ke dalam empat dimensi pembelajaran.

Dua Belas Kecakapan Dimulai Dari Belajar untuk Mengetahui

Dimensi pertama mencakup kreativitas, berpikir kritis, dan pemecahan masalah.

Kreativitas bukan hanya kemampuan menggambar, membuat kerajinan, atau menghasilkan karya seni. Kreativitas juga merupakan kemampuan menemukan gagasan, pendekatan, dan kemungkinan baru dalam menghadapi suatu keadaan.

Berpikir kritis membantu anak memeriksa informasi dan asumsi sebelum menerimanya sebagai kebenaran. Kemampuan ini semakin penting ketika anak berhadapan dengan media sosial, iklan, kabar palsu, dan berbagai pendapat yang saling bertentangan.

Adapun pemecahan masalah diperlukan agar anak tidak hanya mampu mengenali persoalan, tetapi juga mempertimbangkan pilihan dan mencari jalan keluarnya.

Ketiga kecakapan ini menunjukkan bahwa belajar tidak seharusnya berhenti pada mengingat jawaban yang benar. Anak juga perlu belajar mengajukan pertanyaan, menghubungkan informasi, dan menemukan alternatif penyelesaian.

Belajar untuk Melakukan

Dimensi kedua berhubungan dengan kecakapan untuk berkarya dan memasuki dunia kerja. Di dalamnya terdapat kerja sama, negosiasi, dan pengambilan keputusan.

Dunia kerja modern hampir tidak pernah hanya membutuhkan orang yang mampu bekerja sendirian. Seseorang perlu berinteraksi dengan orang yang memiliki pengetahuan, latar belakang, dan kepentingan berbeda.

Kerja sama mengajarkan anak berbagi tugas dan mengejar tujuan bersama. Negosiasi membantu mereka menghadapi perbedaan tanpa harus selalu memaksakan kehendak. Sementara itu, pengambilan keputusan melatih anak mempertimbangkan pilihan beserta akibatnya.

Kecakapan tersebut sebenarnya sudah dapat dilatih sejak sekolah. Ketika murid mengerjakan tugas kelompok, menentukan pembagian peran, menyelesaikan perselisihan, atau memilih kegiatan kelas, mereka sedang belajar menjalankan kemampuan yang kelak dibutuhkan dalam kehidupan profesional.

Belajar Menjadi Diri Sendiri

Dimensi ketiga meliputi pengelolaan diri, ketahanan diri, dan komunikasi.

Pengelolaan diri menyangkut kemampuan mengatur perilaku, emosi, waktu, dan tujuan. Ketahanan diri atau resiliensi membantu seseorang bangkit dan menyesuaikan diri ketika menghadapi tekanan, kesulitan, atau kegagalan.

Resiliensi bukan berarti anak harus menanggung seluruh masalah sendirian. Anak yang tangguh justru perlu mengetahui kapan harus bertahan, menyesuaikan strategi, dan mencari pertolongan.

Sementara itu, komunikasi bukan sekadar kemampuan berbicara. Komunikasi juga melibatkan kemampuan mendengarkan, memahami konteks, menyampaikan gagasan dengan jelas, dan merespons orang lain secara tepat.

Menariknya, instrumen komunikasi yang diuji dalam tahap pertama penelitian pada 2019 belum bekerja dengan baik secara statistik. Tim peneliti kemudian mengembangkan ulang instrumen tersebut dan mengujinya kembali pada 2024. Hal ini memperlihatkan bahwa kemampuan manusia yang tampaknya akrab dalam kehidupan sehari-hari belum tentu mudah diukur secara ilmiah.

Belajar Hidup Bersama

Dimensi keempat mencakup penghormatan terhadap keberagaman, empati, dan partisipasi. Ketiganya ditempatkan sebagai kecakapan untuk membangun kohesi sosial dan kewarganegaraan aktif.

Penghormatan terhadap keberagaman membantu anak hidup bersama orang yang berbeda identitas, keyakinan, kemampuan, dan latar belakang. Empati membuat anak mampu memahami perasaan dan keadaan orang lain. Partisipasi mendorong mereka untuk tidak hanya menjadi penonton, tetapi ikut menyampaikan pendapat dan terlibat dalam urusan bersama.

Di sinilah pendidikan kecakapan hidup bertemu dengan pendidikan kewarganegaraan. Menjadi warga negara tidak cukup hanya dengan mengetahui nama lembaga negara atau menghafal pasal konstitusi. Kewarganegaraan juga membutuhkan kemampuan mendengarkan, menghormati perbedaan, bekerja bersama, dan berpartisipasi dalam pengambilan keputusan.

Sekolah dapat menjadi tempat pertama anak mempraktikkannya. Musyawarah menentukan aturan kelas, menyampaikan keberatan terhadap perundungan, membantu teman yang mengalami kesulitan, atau mengusulkan perbaikan fasilitas sekolah merupakan bentuk pembelajaran kewarganegaraan yang nyata.

Mengapa Dua Belas Kecakapan Itu Perlu Diukur?

Daftar 12 kecakapan tersebut mudah disepakati sebagai sesuatu yang penting. Persoalannya, bagaimana sekolah atau pemerintah mengetahui apakah pendidikan benar-benar membantu anak mengembangkannya?

Tanpa pengukuran yang memadai, istilah seperti kreativitas, empati, resiliensi, dan berpikir kritis dapat berhenti menjadi slogan. Sebaliknya, pengukuran yang tidak tepat juga berbahaya karena dapat menyederhanakan kemampuan manusia menjadi angka yang menyesatkan.

Karena itu, tim LSCE tidak langsung menyusun beberapa pertanyaan lalu menjadikannya sebagai tes. Mereka terlebih dahulu merumuskan bagian-bagian kemampuan yang dapat dinilai, menelaah instrumen yang sudah ada, mengembangkan pertanyaan baru, meminta penilaian ahli, mendengarkan tanggapan pelajar, serta menguji kemungkinan bias bahasa, budaya, negara, dan gender.

Proses panjang tersebut mengingatkan bahwa mengukur kecakapan hidup jauh lebih rumit daripada memeriksa jawaban benar atau salah dalam ujian pengetahuan.

Pelajaran bagi Indonesia dari Dua Belas Kecakapan

Dua belas kecakapan dalam laporan UNICEF itu juga relevan bagi pendidikan Indonesia. Sekolah kita telah lama mengenal pendidikan karakter, pembelajaran berbasis kompetensi, dan pendidikan kewarganegaraan. Tantangannya adalah memastikan agar semua gagasan tersebut benar-benar hadir dalam pengalaman belajar anak.

Anak tidak akan menjadi kreatif jika setiap pertanyaan hanya memiliki satu jawaban yang diperbolehkan. Mereka tidak akan belajar berpikir kritis jika bertanya dianggap sebagai bentuk pembangkangan. Kerja sama sulit berkembang apabila tugas kelompok hanya dikerjakan oleh satu anak. Partisipasi juga tidak akan tumbuh jika semua keputusan selalu datang dari orang dewasa.

Kecakapan hidup bukan mata pelajaran tambahan yang harus dimasukkan ke dalam jadwal sekolah yang sudah padat. Kecakapan tersebut dapat ditumbuhkan melalui cara belajar, hubungan antara guru dan murid, budaya sekolah, serta kesempatan yang diberikan kepada anak untuk berpikir dan bertindak.

Laporan ini pada akhirnya mengajak kita melihat kembali makna keberhasilan pendidikan. Anak yang berhasil bukan hanya anak yang mengetahui banyak hal, melainkan juga anak yang mampu menggunakan pengetahuannya, mengelola dirinya, hidup bersama orang lain, dan mengambil bagian sebagai warga dalam kehidupan bersama.

Dua belas kecakapan tersebut bukan sekadar bekal untuk memperoleh pekerjaan pada masa depan. Semuanya merupakan bekal agar anak dapat menjalani kehidupan secara mandiri, bermartabat, dan bertanggung jawab.

Artikel berikutnya dalam Seri Membaca Laporan UNICEF akan membahas empat dimensi pendidikan yang menjadi dasar pengelompokan 12 kecakapan tersebut: belajar untuk mengetahui, belajar untuk melakukan, belajar menjadi diri sendiri, dan belajar hidup bersama.

Tags:

Kirim opini anda disini

Kami menerima tulisan berupa opini masyarakat luas tentang kewarganegaraan, administrasi kependudukan, dan diskriminasi

Klik Disini

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Follow us on

Jangan ragu untuk menghubungi kami
//
Eddy Setiawan
Peneliti Yayasan IKI
//
Prasetyadji
Peneliti Yayasan IKI
Ada yang bisa kami bantu?