loader image
021- 2510670
sekretariat@yayasan-iki.or.id

Akta Kelahiran Jadi Fondasi Identitas Digital Dunia

42 views
Akta Kelahiran Jadi Fondasi Identitas Digital Dunia.
Akta Kelahiran Jadi Fondasi Identitas Digital Dunia (Ilustrasi: Chat GPT)
Facebook
Twitter
WhatsApp
Email

Akta kelahiran selama ini identik dengan dokumen pertama yang dimiliki seseorang. Namun, perannya kini berkembang jauh melampaui selembar dokumen. Kini akta kelahiran jadi fondasi identitas digital. Sejumlah negara mulai menempatkan pencatatan kelahiran sebagai fondasi Digital Public Infrastructure (DPI). Identitas seseorang dibangun sejak lahir, kemudian digunakan untuk menghubungkan berbagai layanan publik sepanjang hidupnya.

Perubahan ini terlihat dalam studi kasus Rwanda dan Thailand yang dipublikasikan Vital Strategies. Keduanya menunjukkan bagaimana pencatatan sipil dapat dihubungkan dengan sistem identitas nasional dan layanan pemerintah. Artinya, pencatatan kelahiran bukan lagi sekadar menghasilkan akta kelahiran melalui sistem kependudukan dan pencatatan sipil.

Dari Akta Kelahiran ke Identitas Digital: Akta Kelahiran Jadi Fondasi

Dalam sistem konvensional, pencatatan kelahiran dan sistem identitas nasional sering berjalan terpisah. Data yang sama kemudian dicatat kembali oleh berbagai lembaga. Pendekatan DPI mencoba mengubah pola tersebut.

Pencatatan kelahiran menjadi titik awal pembentukan identitas hukum seseorang. Data tersebut kemudian menjadi bagian dari registrasi penduduk yang terpercaya. Registrasi penduduk selanjutnya dapat mendukung identitas digital, layanan kesehatan, pendidikan, bantuan sosial, dan berbagai layanan pemerintah lainnya.

Vital Strategies menilai digitalisasi pencatatan sipil saja tidak cukup. Sistem Civil Registration and Vital Statistics (CRVS) juga perlu terhubung dengan sistem identitas nasional.

Tanpa integrasi, perbedaan data dapat muncul di antara berbagai basis data pemerintah. Bahkan teknologi biometrik yang canggih tidak dapat sepenuhnya mengatasi persoalan jika registrasi penduduk yang menjadi fondasinya lemah.

Rwanda Menghubungkan Pencatatan Sipil dengan Ratusan Layanan

Rwanda menjadi salah satu contoh transformasi tersebut. Vital Strategies telah bekerja dengan negara itu sejak 2016 untuk membantu modernisasi CRVS. Sebelumnya, keluarga sering harus menempuh perjalanan jauh untuk mencatat kelahiran atau kematian.

Sistem tersebut kemudian didesentralisasi dan didigitalisasi. Ribuan titik pencatatan tersedia dan sistemnya terhubung dengan rumah sakit serta berbagai lembaga pemerintah. Integrasi memungkinkan verifikasi identitas dan pertukaran data dilakukan secara waktu nyata. Infrastruktur tersebut juga mendukung akses terhadap sekitar 200 layanan penting.

Pada 2024, sekitar 85 persen layanan publik Rwanda telah didigitalisasi. Peralihan dari pencatatan berbasis kertas menuju platform digital menjadi bagian penting dari perubahan tersebut.

Thailand Hubungkan Kelahiran dengan Nomor Identitas

Mengutip dari Biometric Update, Thailand menawarkan contoh lain. Vital Strategies menilai sistem CRVS Thailand termasuk salah satu yang paling komprehensif di Asia Tenggara. Reformasi selama bertahun-tahun membawa negara tersebut menuju pencatatan sipil yang hampir universal. Thailand kemudian menghubungkan pencatatan sipil dengan nomor identifikasi pribadi 13 digit.

Hasilnya tidak berhenti pada administrasi kependudukan. Data dapat dipertukarkan melalui sistem interoperabilitas yang disebut linkage center. Bayi baru lahir juga dapat dihubungkan dengan skema jaminan kesehatan universal. Sistem tersebut turut mendukung inklusi orang tanpa kewarganegaraan. Dengan demikian, identitas yang dibangun sejak kelahiran dapat digunakan dalam berbagai tahap kehidupan.

Bagaimana dengan Indonesia? Apakah Akta Kelahiran Jadi Fondasi Digitalisasi?

Indonesia sebenarnya memiliki fondasi yang mengarah pada model serupa. Pencatatan sipil dan data kependudukan dikelola melalui Sistem Informasi Administrasi Kependudukan (SIAK). Setiap penduduk memiliki Nomor Induk Kependudukan (NIK) sebagai nomor identitas tunggal.

Bagi bayi yang baru lahir, pencatatan kelahiran menjadi titik penting dalam pembentukan identitas tersebut. Setelah kelahirannya dicatat dalam administrasi kependudukan, bayi memperoleh NIK sendiri. NIK diterbitkan satu kali dan tidak berubah sepanjang hidup.

Dengan demikian, NIK bukan nomor yang baru diperoleh ketika seseorang berusia 17 tahun dan memiliki KTP-el. Seorang anak sudah memiliki NIK sejak kelahirannya dicatat dalam sistem administrasi kependudukan. Inilah salah satu modal penting Indonesia dalam membangun infrastruktur publik digital berbasis identitas.

Dari Fasilitas Kesehatan ke SIAK

Perkembangan terbaru juga menunjukkan hubungan antara pencatatan kelahiran dan layanan kesehatan semakin erat. SATUSEHAT menyediakan mekanisme pengelolaan data pasien bayi baru lahir. Dalam layanan kesehatan, data bayi dapat terlebih dahulu dihubungkan dengan data ibunya sebelum NIK bayi tersedia dalam sistem.

NIK ibu dalam konteks tersebut bukan NIK sementara bagi bayi. NIK ibu berfungsi membantu menghubungkan dan menemukan data bayi pada tahap awal pelayanan kesehatan.

Setelah kelahiran tercatat dalam SIAK dan NIK diterbitkan, bayi memiliki NIK sendiri yang diterbitkan sekali dan tidak berubah seumur hidup. NIK tersebut selanjutnya menjadi identitas kependudukan yang dapat digunakan dalam berbagai layanan publik.

Integrasi antara sistem kesehatan dan administrasi kependudukan membuat proses tersebut semakin penting. Peristiwa kelahiran di fasilitas kesehatan dapat menjadi titik awal pembentukan identitas seseorang dalam ekosistem layanan publik digital.

Model tersebut sejalan dengan gagasan yang berkembang secara global: identitas digital tidak seharusnya baru dimulai ketika seseorang membutuhkan kartu identitas. Identitas itu dimulai sejak kelahiran.

NIK Menjadi Kunci Penghubung

Indonesia memiliki keuntungan karena NIK dapat digunakan sebagai pengenal tunggal untuk menghubungkan penduduk dengan berbagai layanan. Dalam ekosistem digital pemerintah, NIK semakin banyak digunakan untuk verifikasi identitas. Penggunaannya mencakup layanan kesehatan, perlindungan sosial, perpajakan, hingga berbagai pelayanan publik lainnya.

Perkembangan digitalisasi perlindungan sosial juga memperlihatkan arah tersebut. Sistem pemerintah mulai menggabungkan identitas digital dan pertukaran data antarinstansi untuk meningkatkan ketepatan pelayanan. Dalam pola seperti ini, SIAK dan NIK tidak lagi hanya berkaitan dengan penerbitan dokumen kependudukan. Keduanya semakin berperan sebagai salah satu fondasi pertukaran data dalam pelayanan publik.

Mengapa Pencatatan Kelahiran Begitu Penting?

Perubahan tersebut menjelaskan mengapa pencatatan kelahiran kembali mendapat perhatian dunia. UNICEF mencatat hanya sekitar 51 persen anak berusia di bawah lima tahun di Afrika sub-Sahara yang kelahirannya telah tercatat. Untuk anak berusia di bawah satu tahun, angkanya sekitar 46 persen.

Kesenjangan tersebut menjadi persoalan besar ketika pemerintah mulai membangun sistem identitas digital nasional. Seseorang sulit memperoleh identitas digital yang terpercaya jika keberadaan hukumnya sejak lahir tidak tercatat dengan baik.

Karena itu, negara-negara Afrika memasuki dekade baru pengembangan CRVS 2027–2036 dengan perhatian lebih besar terhadap integrasi dan interoperabilitas. Burundi, Nigeria, Liberia, dan Tanzania termasuk negara yang tengah memperkuat pencatatan kelahiran. Tanzania, misalnya, melaporkan cakupan pencatatan kelahiran anak meningkat dari 55 persen pada 2020 menjadi sekitar 65 persen.

Akta Kelahiran Jadi Fondasi dalam Ekosistem Digital

Pengalaman Rwanda dan Thailand memperlihatkan perubahan besar dalam cara pemerintah memandang pencatatan sipil. Akta kelahiran tetap penting sebagai dokumen hukum. Namun, data yang terbentuk melalui pencatatan kelahiran mempunyai fungsi yang jauh lebih luas.

Pencatatan kelahiran menjadi titik pertama pembentukan identitas hukum seseorang. Identitas tersebut kemudian dapat dihubungkan dengan layanan kesehatan, pendidikan, perlindungan sosial, dan berbagai layanan publik lainnya.

Indonesia memiliki modal yang kuat melalui SIAK dan NIK. Integrasi dengan SATUSEHAT serta berbagai sistem pemerintah digital semakin membuka peluang untuk membangun layanan yang terhubung sejak seseorang dilahirkan.

Dalam perspektif ini, masa depan akta kelahiran bukan sekadar menjadi dokumen pertama seorang anak. Pencatatan kelahiran adalah pintu pertama seseorang memasuki sistem identitas dan ekosistem layanan publik digital sepanjang hidupnya.

Tags:

Kirim opini anda disini

Kami menerima tulisan berupa opini masyarakat luas tentang kewarganegaraan, administrasi kependudukan, dan diskriminasi

Klik Disini

Related Post

Ilustrasi warga pemulung di Cengkareng, Jakarta Barat, yang hidup tanpa dokumen kependudukan dan diduga menjadi korban pungutan liar untuk memperoleh KTP, KK, dan akta kelahiran.
Berita
Prasetyadji

Sekitar 1.300 kepala keluarga (KK) di kawasan pemukiman pemulung Mangga Ubi, Kebon Sayur, dan Velbag, Cengkareng, Jakarta Barat, hidup tanpa

Baca Selengkapnya »

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Follow us on

Jangan ragu untuk menghubungi kami
//
Eddy Setiawan
Peneliti Yayasan IKI
//
Prasetyadji
Peneliti Yayasan IKI
Ada yang bisa kami bantu?