loader image
021- 2510670
sekretariat@yayasan-iki.or.id

Publik Ramai Menghakimi, Lukman Hakim Ajak Introspeksi

Publik Ramai Menghakimi, Lukman Hakim Ajak Introspeksi

1 views
Publik ramai menghakimi pernyataan cukup aku saja yang WNI. Namun Lukman Hakim Saifuddin justru mengajak kita semua melakukan instropeksi.
Publik ramai menghakimi Lukman Hakim Saifuddin ajak instropeksi (Foto: Tempo)
Facebook
Twitter
WhatsApp
Email

Di tengah ramainya perdebatan publik mengenai isu kebanggaan menjadi warga negara Indonesia yang belakangan viral di media sosial. Mantan Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin menyampaikan pesan reflektif yang mengajak masyarakat menahan diri dari sikap saling menghakimi. Ini adalah sebuah ajakan yang menyejukkan di kala publik ramai menghakimi, jutru diingatkan untuk instropeksi.

Melalui akun Instagram pribadinya pada Senin (23/2/2026), Lukman menulis:

“Jangan buru-buru menghukum anak-anak kita yang tak bangga menjadi warga negara Indonesia. Mari instropeksi diri bersama, apa yang telah kita para orang tua ajarkan dan teladankan kepada anak-anak kita, sehingga mereka menjadi sedemikian rupa?”

Unggahan tersebut muncul di tengah diskusi luas mengenai nasionalisme dan identitas kewarganegaraan yang berkembang di ruang digital dalam beberapa hari terakhir. Perdebatan publik dipicu oleh pernyataan salah seorang awardee LPDP, Dwi Sasetyaningtyas. Adapun pernyataan ibu dua anak yang menjadi sumber perdebatan adalah “cukup aku saja yang WNI” hingga soal paspor kuat. Hal inilah yang kemudian memancing reaksi emosional dari berbagai kalangan. Sehingga ramai publik menghakimi.

Mengubah Arah Percakapan

Berbeda dari respons bernada keras yang banyak muncul di media sosial. Pernyataan Lukman tidak berfokus pada individu tertentu, melainkan pada tanggung jawab kolektif antargenerasi. Ia mengajak masyarakat melihat persoalan kebanggaan kebangsaan sebagai hasil proses pendidikan sosial yang panjang.

Pendekatan ini sejalan dengan pandangan dalam sosiologi modern yang melihat identitas kebangsaan bukan sebagai sesuatu yang lahir secara otomatis. Melainkan terbentuk melalui proses sosialisasi—yakni nilai, pengalaman, dan teladan yang diterima seseorang sejak lingkungan keluarga hingga ruang publik.

Dalam kerangka tersebut, rasa memiliki terhadap negara tidak hanya dipengaruhi oleh pendidikan formal atau simbol nasional. Akan tetapi juga oleh pengalaman sehari-hari warga dalam berinteraksi dengan institusi sosial dan kehidupan berbangsa.

Ramai Publik Menghakimi: Nasionalisme di Tengah Dunia yang Terbuka

Perdebatan yang berkembang juga menunjukkan perubahan konteks zaman. Globalisasi pendidikan dan mobilitas internasional membuat generasi muda semakin akrab dengan peluang lintas negara. Akibatnya, diskusi mengenai kewarganegaraan kini tidak lagi semata menyangkut identitas administratif, tetapi juga persepsi tentang masa depan, kesempatan, dan rasa aman sosial.

Unggahan Lukman Hakim Saifuddin menghadirkan sudut pandang yang lebih tenang di tengah dinamika tersebut. Alih-alih langsung memberi penilaian moral, ia mengajak publik memulai dari pertanyaan reflektif tentang peran generasi dewasa dalam membentuk cara pandang generasi berikutnya.

Ajakan untuk Bercermin Bersama

Pesan yang disampaikan Lukman pada akhirnya menempatkan diskusi kebangsaan dalam ruang introspeksi bersama. Bahwa sikap generasi muda terhadap negaranya tidak berdiri sendiri, melainkan berkaitan dengan pengalaman sosial yang diwariskan oleh lingkungan di sekitarnya.

Di tengah derasnya arus komentar dan perdebatan digital, unggahan tersebut menjadi pengingat bahwa percakapan tentang cinta tanah air tidak selalu harus dimulai dari kecaman, tetapi dapat dimulai dari kesediaan untuk bercermin sebagai masyarakat. Dan tentu saja pemerintah.

Tags:

Kirim opini anda disini

Kami menerima tulisan berupa opini masyarakat luas tentang kewarganegaraan, administrasi kependudukan, dan diskriminasi

Klik Disini

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Follow us on

Jangan ragu untuk menghubungi kami
//
Eddy Setiawan
Peneliti Yayasan IKI
//
Prasetyadji
Peneliti Yayasan IKI
Ada yang bisa kami bantu?