loader image
021- 2510670
sekretariat@yayasan-iki.or.id

Kewarganegaraan dan Agama: Ali Sadikin, Terra Drone, Al Khoziny

Kewarganegaraan dan Agama: Ali Sadikin, Terra Drone, Al Khoziny

144 views
kewarganegaraan dan agama: Ali Sadikin, Terra Drone dan Al Khoziny.
Kewarganegaraan dan Agama Ali Sadikin Terra Drone Al Khoziny (Foto: Kompas TV)
Facebook
Twitter
WhatsApp
Email

Selain peristiwa banjir besar yang terjadi di Aceh dan Sumatera, yang tergolong bencana alam. Ada dua peristiwa memilukan terjadi di penghujung 2025. Pertama, ambruknya bangunan Pondok PesaSelntren Al Khoziny di Sidoarjo yang merenggut nyawa 63 santri. Kedua, kebakaran gedung PT Terra Drone Indonesia di Jakarta yang menewaskan 22 orang.  Keduanya bukan sekadar kecelakaan teknis, melainkan tragedi struktural yang mengungkap celah dalam tata kelola keselamatan publik. Dan, lebih jauh, kelemahan dalam praktik kewarganegaraan substantif di Indonesia. Artikel ini berupaya meneropong relasi kewarganegaraan dan agama melalui sosok Ali Sadikin, dan kedua tragedi tersebut di atas.

Yang menarik bukan hanya skala korban, melainkan respons negara yang kontras terhadap kedua insiden tersebut. Dalam kasus Terra Drone, negara bertindak cepat: Direktur Utama perusahaan ditetapkan sebagai tersangka, dijerat dengan pasal kelalaian, dan ditahan dalam waktu 48 jam pasca-tragedi. Polisi secara eksplisit mengungkap enam bentuk kelalaian manajemen, mulai dari tidak adanya SOP penyimpanan baterai hingga ketiadaan jalur evakuasi. Tentu kerja cepat kepolisian ini patut diapresiasi.

Namun selain apresiasi yang juga tampak dari lini masa media sosial. Netizen sekaligus mempertanyakan dan membandingkannya dengan tragedi robohnya Pesantren Al Khoziny. Dalam kasus Pesantren Al Khoziny, respons negara justru berfokus pada rehabilitasi simbolik. Pada 11 Desember 2025, pemerintah sudah menyatakan akan membantu membangun kembali melalui APBN. Tak tanggung-tanggung, negara mengalokasikan dana sebesar Rp125,3 miliar. Tidak ada penetapan tersangka, tidak ada pengumuman resmi tentang penyelidikan terhadap pengelola pesantren. Meskipun laporan awal menyebut bahwa santri terlibat langsung dalam pekerjaan konstruksi, termasuk pengecoran lantai atas. Suatu praktik yang rentan terhadap pelanggaran standar keselamatan kerja dan perlindungan anak.

Ali Sadikin dan Netralitas Ruang Publik

Kontras ini mengundang kita untuk menoleh ke masa lalu—khususnya pada sosok Ali Sadikin, Gubernur DKI Jakarta (1966–1977). Sosok yang dikenal karena upayanya memisahkan kebijakan publik dari tekanan moral keagamaan. Contohnya, ketika dikritik ulama atas kebijakan pajak perjudian untuk membiayai pembangunan Jakarta. Ia dengan tegas meminta agar mereka tidak usah melewati jalan yang dibangun dari pajak judi tersebut. Sebuah pernyataan yang menegaskan bahwa ruang publik harus dikelola berdasarkan prinsip kewarganegaraan. Bukan otoritas moral kelompok tertentu.

Ali Sadikin bukanlah figur liberal dalam pengertian kontemporer. Namun, ia memahami bahwa keadilan administratif dan akuntabilitas struktural adalah prasyarat bagi pembangunan yang berkelanjutan. Dalam pandangannya, negara tidak boleh tunduk pada logika simpati selektif—apalagi jika hal itu mengorbankan prinsip kesetaraan di hadapan hukum semua warga negara.

Ketika Simpati Menggantikan Akuntabilitas

Dalam tragedi Al Khoziny, negara tampak terjebak dalam logika yang keliru, yang justru berpotensi melahirkan impunitas berbasis afiliasi keagamaan. Bantuan APBN senilai ratusan miliar rupiah memang mencerminkan solidaritas negara. Tetapi tidak menggantikan kebutuhan akan proses hukum independen yang menjawab pertanyaan mendasar: siapa yang bertanggung jawab atas kelalaian struktural yang menewaskan puluhan anak?

Pertanyaan ini bukan serangan terhadap institusi pesantren—justru sebaliknya. Menganggap pesantren sebagai “ruang suci” yang kebal dari audit keselamatan akan mereduksi hak santri sebagai warga negara penuh. Santri Al Khoziny dan para pekerja di kantor Terra Drone memiliki posisi yang sama. Lini media sosial pun ramai membahas hal ini. Bahkan tidak sedikit netizen yang berkomentar bahwa ini bukan soal bias agama, tapi bias elektoral. Bukan rahasia lagi bahwa pesantren selama ini merupakan salah satu lumbung suara yang menggiurkan bagi para politisi.

Pertanyaan tentang Konsistensi Penegakan Hukum

Krisis yang muncul dari dua tragedi ini bukanlah krisis agama atau bisnis, melainkan krisis konsistensi negara dalam menegakkan prinsip kewarganegaraan. Ketika kelalaian di sektor korporat ditanggapi dengan penegakan hukum, sementara kelalaian di institusi keagamaan ditanggapi dengan bantuan tanpa pertanggungjawaban, maka yang terjadi adalah fragmentasi hak warga negara berdasarkan konteks sosial tempat mereka berada.

Kewarganegaraan yang adil menuntut: Kesetaraan nyawa: tidak ada nyawa yang lebih “terlindungi” atau lebih “terlupakan” karena afiliasi institusionalnya; Pemisahan tegas antara bantuan kemanusiaan dan proses hukum; Pengakuan bahwa institusi keagamaan tetap tunduk pada standar keselamatan publik dan perlindungan anak.

Ali Sadikin mungkin hidup di era yang berbeda, tetapi pesannya relevan: negara harus hadir sebagai penjaga prinsip, bukan sebagai penyalur simpati yang diskriminatif. Dalam mengenang 85 jiwa yang hilang dari dua tragedi ini, satu tuntutan moral mendasar muncul: agama ataupun modal tidak boleh menjadi perisai bagi penegakan hukum. Setiap warga negara bersamaan kedudukannya dalam hukum dan pemerintahan. Dan wajib menjunjung hukum dan pemerintahan itu tanpa ada kecuali. Bukankah demikian bunyi salah satu pasal UUD Negara Republik Indonesia?

Tags:

Kirim opini anda disini

Kami menerima tulisan berupa opini masyarakat luas tentang kewarganegaraan, administrasi kependudukan, dan diskriminasi

Klik Disini

Related Post

Foto Penyerahan Dokumen Kependudukan
Berita
Prasetyadji

南丹格朗市人口与民事登记局向孤儿院儿童发放人口登记文件

南丹格朗市讯)南丹格朗市人口与民事登记局近日向当地多家孤儿院移交并发放人口与民事登记文件。该项工作在印度尼西亚公民研究院基金会(IKI 基金会)的协调与协助下开展,旨在切实保障孤儿院儿童依法享有基本行政身份权利。 本次接受相关服务的孤儿院包括位于Pamulang的 Pintu Elok 孤儿院、位于Bumi Serpong Damai的 Mekar Lestari 孤儿院,以及同样坐落于 BSD 地区的 Suaka Kasih Bunda 孤儿院。 在经历较为漫长的行政办理流程后,来自西加里曼丹省桑高县的10名儿童,以及来自南尼亚斯县的6名儿童,最终顺利转入 Pintu Elok

Baca Selengkapnya »

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Follow us on

Jangan ragu untuk menghubungi kami
//
Eddy Setiawan
Peneliti Yayasan IKI
//
Prasetyadji
Peneliti Yayasan IKI
Ada yang bisa kami bantu?