Jerman mencatat rekor baru dalam pemberian kewarganegaraan. Sebanyak 332.500 orang memperoleh kewarganegaraan Jerman pada 2025, meningkat sekitar 14 persen dibandingkan tahun sebelumnya dan menjadi angka naturalisasi tertinggi yang pernah tercatat di negara tersebut.
Lonjakan ini menurut laporan Vietnam.vn terutama didorong oleh reformasi hukum kewarganegaraan yang mulai berlaku pada Juni 2024. Reformasi tersebut mengubah sejumlah ketentuan penting, termasuk memperbolehkan kewarganegaraan ganda sebagai standar umum dan mempersingkat masa tinggal minimum untuk mengajukan naturalisasi dari delapan tahun menjadi lima tahun.
Naturalisasi Jerman Didominasi Suriah dan Picu Perdebatan Politik
Warga Suriah masih menjadi kelompok terbesar penerima kewarganegaraan Jerman dengan porsi sekitar 20 persen dari seluruh naturalisasi. Mereka diikuti oleh warga Turki sekitar 10 persen dan warga Rusia sekitar 6 persen. Sementara itu, peningkatan signifikan juga terjadi pada pemohon dari Bosnia-Herzegovina, Albania, dan Amerika Serikat.
Kebijakan baru ini mencerminkan perubahan pendekatan Jerman terhadap integrasi migran. Jika sebelumnya kewarganegaraan dipandang sebagai tahap akhir dari proses integrasi yang panjang, kini pemerintah Jerman melihat kewarganegaraan sebagai instrumen untuk memperkuat partisipasi sosial, ekonomi, dan politik para pendatang yang telah menetap secara permanen.
Mayoritas warga negara baru tersebut juga diperkirakan mempertahankan kewarganegaraan asal mereka seiring diterapkannya kebijakan kewarganegaraan ganda. Reformasi ini menjadi salah satu perubahan terbesar dalam sistem kewarganegaraan Jerman dalam beberapa dekade terakhir.
Namun lonjakan naturalisasi juga memunculkan perdebatan politik. Partai sayap kanan Alternative für Deutschland (AfD) mengkritik kebijakan yang dianggap terlalu longgar dan menyerukan peninjauan kembali sejumlah ketentuan naturalisasi. Sebaliknya, kalangan pendukung reformasi berpendapat bahwa kebijakan tersebut membantu mengatasi tantangan demografi, kebutuhan tenaga kerja, dan integrasi sosial di Jerman.
Perdebatan diperkirakan akan semakin menguat dalam beberapa tahun mendatang. Saat ini sekitar 1,3 juta warga Ukraina tinggal di Jerman di bawah mekanisme perlindungan sementara Uni Eropa. Jika skema tersebut berakhir sesuai jadwal pada 2027, sebagian besar dari mereka berpotensi memenuhi syarat untuk mengajukan kewarganegaraan Jerman.
Fenomena ini menunjukkan bagaimana kewarganegaraan semakin dipandang sebagai instrumen kebijakan publik yang strategis. Di tengah persaingan global memperebutkan tenaga kerja terampil dan tantangan penuaan penduduk, Jerman memilih memperluas akses menuju kewarganegaraan bagi mereka yang telah membangun kehidupan dan masa depan di negara tersebut.




