Birth tourism atau wisata kelahiran kembali menjadi isu panas di Amerika Serikat. Pemerintahan Donald Trump kini mengambil langkah tegas dengan mengerahkan Immigration and Customs Enforcement (ICE). Untuk memburu praktik yang selama ini berjalan di “wilayah abu-abu” hukum tersebut. Upaya Trump sikat birth tourism ini diikuti dengan lahirnya inisiatif dari ICE untuk membongkar dan memburu jaringan pelaku.
Inisiatif tersebut diberi nama Birth Tourism Initiative. Dimana aparat imigrasi diminta secara khusus menelusuri jaringan yang diduga menjalankan praktik ini. Dengan membantu perempuan hamil dari berbagai negara datang ke Amerika Serikat dengan satu tujuan. Melahirkan anak agar memperoleh kewarganegaraan Amerika secara otomatis berdasarkan birthright.
Fenomena ini sebenarnya bukan hal baru. Selama lebih dari satu abad, Amerika Serikat menerapkan prinsip ius soli, yang memberikan kewarganegaraan kepada setiap bayi yang lahir di wilayahnya. Aturan ini membuat kelahiran di tanah Amerika menjadi sangat bernilai, bahkan dipandang sebagai “tiket masa depan”. Berbeda dengan Indonesia yang hanya menerapkan prinsip ius soli pada kasus khusus. Yakni pada anak yang lahir di Indonesia, yang tidak diketahui asal usul dan keberadaan orangtuanya.
Namun, di balik peluang tersebut, muncul praktik yang semakin terorganisir. Sejumlah agen dan jaringan diketahui menawarkan paket lengkap bagi calon ibu—mulai dari pengurusan visa, akomodasi selama kehamilan, hingga fasilitas persalinan. Semuanya dirancang agar proses berjalan mulus, tanpa mencurigakan aparat imigrasi.
Secara hukum, melahirkan di Amerika Serikat bukanlah pelanggaran. Namun sejak 2020, pemerintah AS telah memperketat aturan dengan melarang penggunaan visa turis atau bisnis jika niat utamanya adalah untuk melahirkan demi kewarganegaraan anak. Dalam konteks inilah, Birth Tourism Initiative diluncurkan.
Data dari Center for Immigration Studies menunjukkan bahwa fenomena ini cukup besar skalanya. Sekira 20.000 hingga 25.000 perempuan asing diperkirakan datang ke AS untuk melahirkan antara 2016-1017.
Trump Sikat Birth Tourism: Jadi Alasan Mencabut Birthright
Pemerintahan Trump melihat praktik ini sebagai masalah serius, bukan hanya dari sisi imigrasi, tetapi juga dari perspektif ekonomi dan keamanan. Argumen yang muncul cukup keras: birth tourism dianggap membebani sistem negara sekaligus membuka celah yang dapat dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu. Oleh karena itu Trump sikat birth tourism. Sebagaimana dikutip dari CNN, juru bicara Gedung Putih, Anna Kelly menyatakan “Praktik ini membebani pembayar pajak dan berpotensi mengancam keamanan nasional”.
Bahkan, di hari pertama masa jabatannya, Trump sempat mencoba membatasi pemberian kewarganegaraan otomatis bagi bayi yang lahir di AS dari orang tua non-warga negara. Namun kebijakan tersebut memicu kontroversi dan akhirnya diblokir oleh pengadilan federal, menandakan bahwa perdebatan soal ius soli masih jauh dari selesai.
Di tengah tarik-menarik kebijakan ini, satu hal menjadi jelas: kewarganegaraan kini tidak lagi dipandang semata sebagai identitas, melainkan sebagai strategi. Birth tourism menunjukkan bagaimana status hukum seseorang bisa dirancang sejak sebelum ia lahir.
Bagi banyak keluarga, paspor Amerika bukan hanya simbol kewarganegaraan, tetapi juga akses ke pendidikan, mobilitas global, dan peluang ekonomi yang lebih luas. Sementara bagi negara, fenomena ini menjadi tantangan besar—bagaimana menjaga prinsip hukum tetap berjalan, tanpa membuka ruang penyalahgunaan.




