Angka kelahiran Indonesia mengalami penurunan tajam dalam lima dekade terakhir. Jika pada awal 1970-an seorang perempuan rata-rata melahirkan lebih dari lima anak, kini angkanya hanya sekitar dua anak.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan total fertility rate (TFR) Indonesia pada 1971 masih mencapai 5,61 anak per perempuan. Hasil Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2025 menunjukkan angka tersebut telah turun menjadi 2,13.
Artinya, dalam waktu sekitar setengah abad, rata-rata jumlah anak yang dilahirkan perempuan Indonesia turun lebih dari separuh.
Lantas, mengapa angka kelahiran Indonesia turun begitu jauh?
Angka Kelahiran Indonesia Turun dari 5,61 Menjadi 2,13
Penurunan fertilitas sebenarnya bukan fenomena baru. Perubahan itu berlangsung selama puluhan tahun seiring transformasi demografi Indonesia.
BPS mencatat TFR sebesar 5,61 pada 1971. Angkanya kemudian turun menjadi 4,68 pada 1980 dan 3,33 pada 1990. Pada SUPAS 1995, TFR telah turun menjadi 2,80.
Penurunan berlanjut, meski kecepatannya semakin melambat. TFR Indonesia tercatat 2,41 pada Sensus Penduduk 2010 dan 2,28 pada SUPAS 2015. Long Form SP2020 kemudian mencatat TFR sebesar 2,18.
Kini, hasil SUPAS 2025 menunjukkan TFR Indonesia berada di angka 2,13 anak per perempuan.
Data lengkap mengenai indikator kependudukan tersebut dapat dilihat dalam rilis resmi SUPAS 2025 Badan Pusat Statistik.
Mengapa Perempuan Indonesia Punya Lebih Sedikit Anak?
Ada perubahan besar di balik perjalanan panjang tersebut.
Program Keluarga Berencana (KB) menjadi salah satu faktor penting dalam penurunan fertilitas Indonesia, terutama sejak dekade 1970-an. Namun, perubahan sosial dan ekonomi kemudian ikut mengubah pola keluarga Indonesia.
Akses pendidikan semakin luas. Perempuan semakin banyak menempuh pendidikan tinggi dan memasuki dunia kerja. Usia perkawinan juga berubah, sementara masyarakat semakin memiliki kemampuan merencanakan jumlah dan jarak kelahiran anak.
Perubahan cara hidup, urbanisasi, biaya membesarkan anak, hingga pilihan keluarga juga dapat memengaruhi keputusan pasangan mengenai jumlah anak.
Karena itu, penurunan fertilitas tidak dapat dijelaskan oleh satu faktor saja. Ia merupakan bagian dari perubahan demografi dan sosial yang berlangsung selama beberapa generasi.
TFR Indonesia Kini Mendekati Replacement Level
Meski turun tajam, angka 2,13 belum berarti Indonesia mengalami krisis kelahiran.
TFR Indonesia saat ini berada sangat dekat dengan replacement level atau tingkat penggantian penduduk. Patokan yang lazim digunakan berada di sekitar 2,1 anak per perempuan.
Secara sederhana, tingkat tersebut menggambarkan kondisi ketika satu generasi dapat digantikan oleh generasi berikutnya tanpa memperhitungkan migrasi.
Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti menyebut angka Indonesia yang sedikit berada di atas 2,1 masih dalam posisi baik.
“Angka kelahiran yang sedikit di atas 2,1 ini sangat bagus, Pak, dan harus dipertahankan,” kata Amalia sebagaimana diberitakan Bloomberg Technoz.
BACA JUGA: Perempuan Indonesia Kini Rata-rata Punya 2 Anak, BPS: Masih Ideal
Penduduk Masih Bertambah, tetapi Melambat Dampak Angka Kelahiran Indonesia Turun
Turunnya angka kelahiran Indonesia juga berjalan beriringan dengan melambatnya pertumbuhan penduduk.
SUPAS 2025 mencatat laju pertumbuhan penduduk Indonesia selama periode 2020–2025 sebesar 1,08 persen per tahun. Angka tersebut lebih rendah dibandingkan periode-periode sebelumnya.
Indonesia dengan demikian masih mengalami pertambahan penduduk. Namun, kecepatannya tidak lagi seperti beberapa dekade lalu.
Perubahan jumlah kelahiran juga berhubungan langsung dengan administrasi kependudukan dan pencatatan sipil. Setiap anak yang lahir perlu dicatat agar memperoleh identitas hukum melalui akta kelahiran dan masuk dalam basis data kependudukan.
Setelah Bonus Demografi, Indonesia Mulai Menua
Ada konsekuensi lain yang lebih panjang.
Ketika kelahiran semakin sedikit sementara penduduk hidup semakin lama, struktur umur penduduk ikut berubah. Proporsi anak mengecil, sedangkan kelompok penduduk berusia lanjut secara bertahap membesar.
SUPAS 2025 mencatat penduduk lanjut usia telah mencapai 11,97 persen dari populasi Indonesia.
BPS menyatakan kondisi tersebut menunjukkan Indonesia telah memasuki fase ageing population.
Di sinilah penurunan angka kelahiran Indonesia menjadi lebih dari sekadar cerita tentang keluarga yang sekarang mempunyai lebih sedikit anak.
Indonesia masih memiliki penduduk usia muda dan produktif dalam jumlah sangat besar. Namun, dalam jangka panjang, generasi yang jumlahnya lebih sedikit akan menggantikan generasi sebelumnya.
Pertanyaannya kemudian bukan lagi sekadar mengapa perempuan Indonesia kini rata-rata mempunyai sekitar dua anak. Indonesia juga perlu memikirkan apa yang terjadi ketika penduduknya secara perlahan semakin menua.




