Universitas Universitas Brawijaya bekerja sama dengan UNESCO untuk memperkuat literasi kewarganegaraan atau civic literacy terkait pelestarian sumber daya air (SDA). Kolaborasi ini dinilai penting di tengah meningkatnya tantangan lingkungan, khususnya di kawasan Malang Raya.
Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Kerja Sama, dan Internasionalisasi UB, Prof. Andi Kurniawan. Mengatakan bahwa kesadaran lingkungan kini perlu menjadi bagian dari pendidikan kewarganegaraan masyarakat.
Pelestarian Lingkungan dan Literasi Kewarganegaraan
Menurutnya, isu pelestarian air tidak bisa lagi dipandang sekadar persoalan teknis lingkungan. Melainkan harus masuk dalam pembentukan kesadaran sosial warga negara. Oleh karena itu literasi kewarganegaraan ke depan harus juga mencakup kesadaran lingkungan dari warga negara.
Sebagaimana dikutip dari Antara News. “Kelestarian air menjadi tantangan besar di Malang Raya. Karena itu, pendidikan mengenai kesadaran lingkungan memang sudah seharusnya menjadi bagian dari civic literacy.” Ujar Andi di Malang, Senin 11 Mei 2026.
UB bersama UNESCO menekankan pentingnya menjaga keberlanjutan mata air dan memastikan ketersediaan air untuk generasi mendatang. Upaya tersebut juga disebut sebagai bagian dari konsep “kampus berdampak”, yakni membawa ilmu pengetahuan dari perguruan tinggi agar benar-benar dirasakan masyarakat luas.
Andi menambahkan, kampus ingin membangun pendekatan yang lebih terintegrasi dalam kurikulum. Sehingga isu lingkungan tidak dibahas secara terpisah-pisah.
Kerja sama ini juga menjadi kelanjutan dari peringatan Hari Air Sedunia 2026 yang sebelumnya diinisiasi UB. Adapun temanya adalah Sustainable Ecohydrological Approach for Coastal Resources Management. Agenda itu semula dijadwalkan berlangsung pada 19 Maret 2026, namun ditunda karena berdekatan dengan persiapan Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah.
Sementara itu, perwakilan UNESCO Regional Office Jakarta, Engin Koncagul. Mengapresiasi kontribusi UB dalam membantu menerjemahkan laporan Perserikatan Bangsa-Bangsa mengenai perkembangan air dunia atau World Water Development Report.
Ia menjelaskan, laporan tersebut menekankan pentingnya keterlibatan seluruh lapisan masyarakat. Termasuk perempuan, anak-anak, dan pemuda, dalam pengelolaan air berkelanjutan.
“Indonesia merupakan role model dalam mengelola sumber daya air,” kata Engin.
Ia berharap kolaborasi aktif antara perguruan tinggi dan UNESCO dapat memperkuat kualitas hidup masyarakat melalui pengelolaan sumber daya air yang lebih berkelanjutan.




