loader image
021- 2510670
sekretariat@yayasan-iki.or.id

Kreativitas, Daya Kritis, dan Kemampuan Memecahkan Masalah

30 views
Kreativitas, Daya Kritis, dan Kemampuan Memecahkan Masalah.
Kreativitas, Daya Kritis, dan kemampuan Memecahkan Masalah (Ilustrasi: Gemini)
Facebook
Twitter
WhatsApp
Email

Artikel ini merupakan bagian ketiga dari sepuluh tulisan dalam Seri Membaca Laporan UNICEF, yang mengulas laporan “Life Skills and Citizenship Education Initiative – Assessment Instruments: Field Trial Report” (Maret 2026). Pada artikel ketiga dari sepuluh artikel yang direncanakan ini, mengupas kreativitas, daya kritis, dan kemampuan memecahkan masalah  dalam kerangka LSCE.

Dalam artikel sebelumnya, kita melihat bahwa learning to know atau belajar untuk mengetahui tidak sama dengan menghafal. Kerangka LSCE mengisi dimensi ini dengan tiga kecakapan: kreativitas, berpikir kritis, dan pemecahan masalah.

Laporan UNICEF menyebut ketiganya sebagai komponen utama purposeful thinking, yaitu cara berpikir yang terarah, tertata, dan punya tujuan. Ketiganya saling berkaitan, tetapi masing-masing punya peran sendiri.

Kreativitas Bukan Milik Pelajaran Seni

Kita sering menganggap anak kreatif sebagai anak yang pandai menggambar atau bermain musik. Kerangka LSCE memberi arti yang lebih luas. Kreativitas adalah kemampuan menghasilkan, mengungkapkan, atau menerapkan gagasan, teknik, dan cara pandang baru. Kemampuan ini sering tumbuh dalam kerja bersama dengan orang lain.

Laporan memang mengakui bahwa kreativitas berkaitan dengan seni. Namun, kreativitas juga menjadi prasyarat inovasi dan kemampuan beradaptasi dalam semua bidang kehidupan, mulai dari ruang kelas sampai tempat kerja.

Untuk mengukurnya, instrumen LSCE melihat empat hal: pengalaman dan capaian kreatif anak, minatnya pada kegiatan kreatif, sikapnya terhadap kreativitas, serta kemampuannya menghasilkan dan menerapkan gagasan baru.

Berpikir Kritis: Berpikir tentang Cara Berpikir

Laporan menyebut berpikir kritis sebagai meta-skill. Maksudnya, kecakapan ini membuat seseorang mampu berpikir tentang cara ia berpikir. Anak yang berpikir kritis bisa menilai situasi dan asumsi, mengajukan pertanyaan, dan menimbang apakah suatu argumen masuk akal.

Dalam instrumen LSCE, berpikir kritis diuraikan menjadi beberapa kemampuan yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari:

  • membedakan fakta dan opini;
  • mengenali asumsi dan bias;
  • mempertanyakan keabsahan bukti;
  • bersikap ingin tahu dan terbuka;
  • merenungkan dan menimbang penilaiannya sendiri.

Daftar ini terasa sangat relevan pada zaman ketika anak bisa menerima puluhan kabar dalam sehari dari telepon genggamnya.

Pemecahan Masalah: Dari Mengenali hingga Mengevaluasi

Kecakapan ketiga adalah pemecahan masalah. Laporan menggambarkannya sebagai kemampuan memikirkan langkah-langkah dari keadaan sekarang menuju tujuan yang diinginkan.

Prosesnya bertahap. Anak perlu menyadari bahwa ada masalah, memahami sifat masalah itu, menentukan apa yang harus diselesaikan, lalu merencanakan dan menjalankan penyelesaiannya. Selama proses berjalan, ia juga perlu memantau dan menilai kemajuannya.

Instrumen LSCE memasukkan satu unsur yang menarik, yaitu penggunaan strategi pemecahan masalah untuk menyelesaikan konflik. Artinya, masalah tidak hanya berupa soal hitungan. Perselisihan dengan teman juga merupakan masalah yang perlu dipecahkan.

Kreativitas, Daya Kritis, dan Problem Solving Diukur Tanpa Soal Benar-Salah

Hal yang paling menarik dari laporan ini adalah cara ketiga kecakapan itu diukur. Tim ahli sempat mempertimbangkan tes kognitif, yaitu soal dengan jawaban benar dan salah, terutama untuk pemecahan masalah. Pilihan itu akhirnya tidak dipakai.

Instrumen LSCE memakai dua jenis butir soal. Yang pertama adalah pernyataan yang dinilai sendiri oleh siswa, misalnya dengan pilihan “sangat setuju” sampai “sangat tidak setuju”. Yang kedua adalah situational judgement test: siswa diberi gambaran suatu situasi, lalu diminta memilih tindakan yang paling mungkin mereka lakukan.

Kreativitas dan pemecahan masalah diuji pada fase pertama tahun 2019. Keduanya termasuk dalam delapan instrumen yang berfungsi baik secara statistik. Berpikir kritis baru diuji pada fase kedua tahun 2024. Instrumen ini paling banyak harus disusun dari awal. Dari tinjauan terhadap alat ukur yang sudah ada, hanya 15 butir yang berpotensi dipakai, sedangkan yang dibutuhkan 45 butir. Selebihnya harus ditulis baru.

Pelajaran dari Pernyataan yang Dibuang

Laporan juga menampilkan butir soal berpikir kritis yang akhirnya dikeluarkan dari instrumen final. Beberapa di antaranya:

  • “Saya cenderung setuju dengan pendapat orang-orang di sekitar saya.”
  • “Ketika menemukan informasi baru, saya percaya bahwa informasi itu benar.”
  • “Saya pikir, jika kebanyakan orang setuju dengan saya, saya mungkin benar.”

Ada juga butir berbentuk situasi tentang memilih sumber bahan tugas, dengan pilihan tindakan seperti “hanya memakai informasi dari internet karena dianggap lebih akurat daripada buku”.

Sekilas, butir-butir ini tampak tepat untuk mengukur berpikir kritis. Namun, secara statistik jawaban siswa pada butir tersebut tidak sejalan dengan butir lainnya. Tiga belas dari lima belas butir yang dibuang merupakan pernyataan bernada negatif atau terbalik. Temuan ini akan dibahas lebih lanjut dalam artikel tentang perbaikan instrumen.

Pelajarannya sederhana tetapi penting. Mengukur cara berpikir anak tidak semudah menyusun pertanyaan yang terdengar masuk akal. Setiap butir perlu diuji langsung kepada siswa.

Apa Artinya bagi Sekolah?

Laporan ini tidak memberi resep pembelajaran, karena fokusnya adalah alat ukur. Meski begitu, uraian tentang ketiga kecakapan ini memberi petunjuk yang jelas: kreativitas, berpikir kritis, dan pemecahan masalah tumbuh dari kebiasaan, bukan dari hafalan.

Anak yang terbiasa ditanya “dari mana kamu tahu itu?” akan belajar memeriksa bukti. Sedangkan anak yang diberi ruang mencoba cara berbeda akan belajar berkreasi. Sementara anak yang diajak menyelesaikan persoalan nyata di kelasnya, termasuk perselisihan dengan teman, akan belajar memecahkan masalah.

Ketiga kecakapan ini juga merupakan bekal kewarganegaraan. Warga yang kreatif, kritis, dan mampu memecahkan masalah tidak mudah termakan kabar bohong dan sanggup mencari jalan keluar bersama.

Artikel berikutnya dalam Seri Membaca Laporan UNICEF akan membahas dimensi belajar untuk melakukan: kerja sama, negosiasi, dan pengambilan keputusan.

Tags:

Kirim opini anda disini

Kami menerima tulisan berupa opini masyarakat luas tentang kewarganegaraan, administrasi kependudukan, dan diskriminasi

Klik Disini

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Follow us on

Jangan ragu untuk menghubungi kami
//
Eddy Setiawan
Peneliti Yayasan IKI
//
Prasetyadji
Peneliti Yayasan IKI
Ada yang bisa kami bantu?