Megamendung, Bogor — Suara tawa pecah di ruang tamu Panti Asuhan Bukit Karmel. William Mark, Natalia Rosse, dan Immanuel Dimas Wijaya saling bersahutan, bergurau, dan sesekali menimpali satu sama lain dilanjutkan dengan duduk bersama di sebuah rumah makan, setelah hampir dua jam berbincang tentang masa lalu, masa kini, dan mimpi-mimpi mereka.
Yang membuat saya terpaku bukanlah cerita tentang kekurangan. Bukan pula tentang kesedihan. Justru sebaliknya: di hadapan saya duduk tiga anak muda yang tumbuh menjadi pribadi yang ceria, percaya diri, dan sama sekali tidak minder menjadi anak panti asuhan.
“Kami Tidak Pernah Merasa Kekurangan”
William Mark, 22 tahun, lulusan sarjana Bisnis Digital. Natalia Rosse, 22 tahun, lulusan sarjana Perbankan Keuangan Digital. Immanuel Dimas Wijaya, 21 tahun, lulusan SMA dan kini tengah bersiap memasuki Fakultas Hukum Universitas Pakuan. Mereka bertiga adalah bagian dari 40 anak yang tinggal di Panti Asuhan Bukit Karmel, yang dikelola oleh seorang perempuan tangguh bernama Ibu Femi, yang mereka panggil akrab dengan sebutan “Tante”.
Saya bertanya kepada mereka: “Pernahkah kalian merasa sedih atau bingung karena tidak punya akta kelahiran?”
Mereka tertawa. Bukan tawa yang menutupi kesedihan, melainkan tawa tulus yang lahir dari ketidaktahuan masa kecil. “Waktu kecil kami nggak paham apa itu akta kelahiran,” kata Natalia sambil tersenyum, yang saya tahu “Umur 6 tahun, Tante Femi sudah bikinkan akta buat kami. Jadi kami nggak pernah ngerasain susahnya.”
William menambahkan, “Pas daftar kuliah, kami sudah punya akta. Untung ada Tante. Kami baru tahu betapa berat perjuangan Tante untuk memperoleh akta kelahiran kami setelah mendengar ceritanya.”
Kedisiplinan yang Membentuk Karakter
Lalu, dari mana datangnya rasa percaya diri yang begitu kental pada diri mereka? Natalia menjawab dengan rendah hati. “Saya tidak pernah ranking 1, 2, atau 3. Paling masuk 10 besar,” katanya. William menimpali, “Kami memang bukan anak paling pintar di kelas, tapi kami paling disiplin.”
“Setiap ada PR atau tugas sekolah, pasti kami kerjakan. Nggak pernah nunda-nunda. Mungkin karena di panti asuhan diajarkan disiplin dan tanggung jawab. Jadi terbawa sampai ke sekolah,” lanjut William, sambil tersenyum.
Dimas menambahkan dengan antusias, “Di sekolah, teman-teman suka bilang, ‘Tanya Dimas aja, pasti dia udah ngerjain PR.'” Mereka bertiga tertawa lepas, saling memandang dengan bangga.
Ketika Seorang Teman Justru Iri dengan Anak Panti
Dimas lalu menceritakan sebuah pengalaman yang membalik logika kebanyakan orang tentang anak panti asuhan. Seorang teman sekolahnya pernah curhat, bahwa ia iri dengan kehidupan Dimas.
“Teman saya bilang, pulang sekolah dijemput mobil panti, ramai-ramai. Sampai rumah, banyak teman untuk main dan cerita. Sedangkan dia dijemput sendiri. Pulang ke rumah hanya ada suster. Orang tuanya pulang malam, dia sudah tidur. Kadang hari Minggu ke mall, makan, itu saja. Membosankan,” tutur Dimas menirukan temannya.
Cerita itu membuka mata Dimas. Ia menyadari bahwa kebersamaan dan kasih sayang tidak selalu harus datang dari orang tua kandung. Di Panti Asuhan Bukit Karmel, ia menemukan keluarga. Kakak, adik, dan Tante Femi yang selalu mendukung. “Mungkin karena cerita teman itu juga yang membuat saya bisa ceria, percaya diri, dan nggak minder,” katanya.
Tidak Pernah Mendapat Perlakuan Berbeda
Saya penasaran, apakah mereka pernah diperlakukan berbeda di sekolah karena berasal dari panti asuhan? William dan Natalia kompak menjawab tidak. Mereka bersekolah di sekolah swasta, ada yang bersekolah di Sekolah Kristen Advent, Sekolah Katolik Mardi Yuana, dan Sekolah Kristen Amal Kasih. Guru dan teman-teman tidak pernah membedakan mereka.
Natalia justru memiliki kenangan manis di masa SD. “Paling kalau mobil panti datang menjemput, teman-teman pada teriak, ‘Mobil panti datang! Mobil panti datang!'” Ia tertawa. “Tapi itu bukan hinaan. Malah jadi seru. Kami anak-anak panti berlari cepat-cepat menuju mobil, berebut tempat duduk di samping jendela.”
William dan Dimas mengamini. “Betul, kita berebut duduk di dekat jendela,” kata mereka serempak, lalu tertawa bersama. Mereka tertawa lepas, mungkin sambil mengenang masa kecil yang ternyata dapat membuat bahagia.
BPJS dan KIP: Kabar Baik di Tengah Perjuangan
Di akhir obrolan, Ibu Femi menyampaikan kabar yang menggembirakan. Saat ini, dari 40 anak yang tinggal di Bukit Karmel, semuanya telah memiliki akta kelahiran. Hanya enam anak balita yang masih menunggu giliran. Bahkan, pada Hari Anak Nasional tahun 2023, enam belas petugas Dukcapil datang langsung ke panti membawa peralatan lengkap. Anak yang sudah berusia 17 tahun langsung dibuatkan KTP, sedangkan anak usia 5 hingga 16 tahun mendapat Kartu Identitas Anak (KIA).
Di bidang kesehatan, seluruh anak asuh telah mendapatkan bantuan BPJS Kesehatan. Di bidang pendidikan, meskipun Kartu Indonesia Pintar untuk pendidikan dasar dan menengah masih dalam proses, satu kabar baik datang: Dimas diterima di Fakultas Hukum Universitas Pakuan melalui jalur KIP, berkat bantuan Pak Mahendra. Semua di ruangan itu tertawa lepas. Tawa syukur. Tawa bahagia.
Refleksi: Ketika Kekayaan Berarti Kebersamaan
Kita terbiasa mengasosiasikan anak panti asuhan dengan gambaran kesedihan, kekurangan, dan rasa iba. Tiga anak muda di Bukit Karmel ini membalik semua stereotip itu. Mereka membuktikan bahwa rumah bukan hanya soal tembok dan atap. Rumah adalah orang-orang yang saling menyayangi. Kasih sayang yang mereka terima dari Tante Femi dan sesama anak panti telah menumbuhkan karakter yang lebih berharga dari materi: kepercayaan diri, kedisiplinan, dan kemampuan untuk tetap tersenyum dalam segala keadaan.
“Kami ceria, percaya diri, dan tidak minder,” kata Natalia. Dan saya, sangat percaya itu.
Saya menyaksikan sendiri bagaimana mereka bersenda gurau, saling mendukung, saling support dan tertawa bersama di meja makan, persis seperti keluarga yang hangat dan bahagia. Sebuah keluarga yang, meskipun tanpa kehadiran dan kasih saying ayah dan ibu kandung, meskipun kekurangan material, namun seperti tidak memiliki kekurangan apa pun. Justru mereka memiliki sesuatu yang tak terbeli: kasih sayang dan kebersamaan sejati.
IG Mahendra Kusumaputra adalah mahasiswa doktoral Program Studi Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Gadjah Mada.




