Pengacara kondang, Hotman Paris Hutapea, melancarkan kecaman keras terhadap seorang alumni penerima beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP), Dwi Sasetyaningtyas. Kemarahan Hotman Paris dipicu oleh unggahan Dwi di media sosial yang memamerkan paspor warga negara asing (WNA) sang anak serta pernyataannya yang enggan jika anaknya menjadi Warga Negara Indonesia (WNI). Jadi buntut cukup WNI dari Tyas ternyata memicu banyak reaksi.
Hotman Paris menyoroti hal tersebut melalui sebuah video yang diunggahnya di akun Instagram pribadi pada Rabu (25/2). Dalam video itu, Hotman menilai pernyataan Dwi sangat tidak pantas, mengingat statusnya sebagai penerima beasiswa yang dananya bersumber dari anggaran negara dan pajak rakyat.
Ancaman Somasi Buntut Cukup Aku WNI
“Hei, kamu yang teriak-teriak mengatakan tidak mau anaknya WNI sedangkan kamu, menginjak luar negeri adalah uang dari beasiswa negara. Aku somasi kamu. Hei, kembalikan itu beasiswa, atau kamu minta maaf kepada publik,” tegas Hotman Paris.
Hotman menegaskan bahwa dana LPDP berasal dari kontribusi masyarakat, termasuk Pajak Penghasilan (PPh) dan Pajak Pertambahan Nilai (PPN). Ia mengaku merasa tersinggung sebagai salah satu warga negara yang taat membayar pajak.
“Lu tau enggak uang yang menyekolahkan kamu juga, termasuk uang pajak yang dari gue ini juga ada di situ. Uang pajak rakyat. Dari pajak PPh pajak PPN,” ujarnya.
Tak hanya menuntut permintaan maaf atau pengembalian dana, Hotman Paris bahkan melangkah lebih jauh dengan mengusulkan pencabutan kewarganegaraan Dwi. Ia menilai pernyataan Dwi dapat dianggap sebagai penghinaan terhadap bangsa di kancah internasional.
“Saya usulkan kepada bapak presiden, cabut warga negaranya. Sekali lagi, cabut warga negaranya. Itu sudah menghina bangsa di dunia internasional,” kata Hotman.
Awal Mula Polemik
Kontroversi ini bermula dari video yang diunggah Dwi Sasetyaningtyas di Instagram dan Threads. Dalam video tersebut, Dwi memperlihatkan surat dari otoritas Inggris yang menyatakan bahwa anak keduanya telah resmi menjadi *British citizen*.
“I know the world seems unfair. Tapi cukup aku aja yang WNI, anak-anakku jangan. Kita usahakan anak-anak dengan paspor kuat WNA itu,” tulis Dwi dalam unggahan yang kemudian viral tersebut.
Unggahan itu seketika memicu respons keras dari warganet. Banyak netizen menilai narasi tersebut kurang bijak, terutama karena Dwi merupakan *awardee* LPDP yang pendidikannya dibiayai oleh negara. Polemik pun merembet ke kehidupan pribadi Dwi dan suaminya, termasuk sorotan terkait kewajiban pengabdian sebagai penerima beasiswa.
Soal Dwi Sasetyaningtyas
Dwi Sasetyaningtyas tercatat sebagai Sarjana Teknik Kimia dari Institut Teknologi Bandung (ITB). Ia melanjutkan studi magister di Delft University of Technology, Belanda, mengambil jurusan *Sustainable Energy Technology* dengan beasiswa LPDP pada 2015 dan lulus pada 2017.
Selama masa pengabdian di Indonesia periode 2017–2023, Dwi tercatat memiliki berbagai kontribusi sosial. Ia menginisiasi penanaman 10.000 pohon bakau di berbagai pesisir, memberdayakan ibu rumah tangga agar berpenghasilan dari rumah, terlibat dalam penanggulangan bencana di Sumatera, hingga membangun sekolah di Nusa Tenggara Timur (NTT).
Meski memiliki rekam jejak pengabdian, pernyataan terkait kewarganegaraan anaknya tetap menjadi sorotan tajam. Hingga saat ini, polemik tersebut masih terus menjadi perbincangan hangat di kalangan masyarakat dan media sosial.




