Ketika membaca ulasan J. L. Wall terhadap buku Michael Luo. Strangers in the Land: Exclusion, Belonging, and the Epic Story of the Chinese in America (2025). Saya menemukan satu sudut pandang penting tentang sejarah Amerika Serikat. Bahwa imigran Tionghoa ternyata bukan sekadar kelompok yang mengalami diskriminasi, melainkan juga aktor yang ikut membentuk arah perkembangan negara tersebut. Sejarah mereka memperlihatkan bahwa kewarganegaraan Amerika tidak terbentuk di luar perdebatan tentang ras, dan isu ketenagakerjaan.
Sejarah imigrasi Amerika umumnya diceritakan dari timur ke barat. Kisahnya dimulai dari kedatangan orang-orang Eropa, pelabuhan-pelabuhan di pesisir timur, pembentukan kota-kota besar, lalu ekspansi ke wilayah barat. Sejarah orang Tionghoa di Amerika bergerak dengan arah yang berbeda. Mereka datang melalui pesisir barat, terutama San Francisco, kemudian menyebar mengikuti jalur pembangunan rel kereta api dan berbagai pusat ekonomi.
Para pekerja Tionghoa memainkan peran penting dalam pembangunan Transcontinental Railroad. Jalur kereta api yang menghubungkan bagian timur dan barat Amerika Serikat. Dengan demikian, sejarah mereka hampir sejak awal berkaitan langsung dengan proses penyatuan wilayah Amerika. Kehadiran mereka juga memperlihatkan bahwa pembangunan bangsa Amerika bukan hanya hasil kerja kelompok keturunan Eropa. Tapi juga turut dibentuk oleh para pendatang dari berbagai wilayah dunia.
Menurut Luo, kehadiran orang Tionghoa memaksa masyarakat Amerika menghadapi kenyataan bahwa negara tersebut sedang berkembang menjadi demokrasi multirasial. Mereka berasal dari negeri yang jauh, dengan bahasa hingga keyakinan dan kebiasaan yang berbeda. Selain itu, mereka juga tidak mudah ditempatkan dalam hierarki rasial yang telah terbentuk di Amerika.
Karena itu, persoalan imigrasi Tionghoa tidak dapat dipisahkan dari perdebatan yang lebih luas mengenai perbudakan, ras, dan kewarganegaraan. Chinese Question muncul setelah Negro Question, bersamaan dengan runtuhnya Rekonstruksi pasca-Perang Saudara, meluasnya sistem Jim Crow, dan penaklukan masyarakat pribumi di wilayah perbatasan barat.
Dari tenaga kerja bebas menuju pembatasan imigrasi
Demam emas di California menjadi salah satu faktor awal kedatangan imigran Tionghoa. Namun, setelah pembangunan jalur kereta api lintas benua selesai pada 1869, mereka tidak serta-merta meninggalkan Amerika. Banyak yang tetap tinggal, mencari pekerjaan baru, membangun komunitas, dan berusaha menetap. Dalam hal ini, pengalaman mereka tidak berbeda secara mendasar dari jutaan imigran Eropa yang datang ke Amerika untuk mencari kesempatan hidup.
Meskipun jumlah imigran Tionghoa lebih kecil dan komunitasnya tersebar di wilayah yang jauh dari pusat politik dan ekonomi utama, keberadaan mereka memberikan pengaruh yang besar terhadap perkembangan Amerika.
Imigrasi Tionghoa kemudian menjadi salah satu faktor yang memecah koalisi Partai Republik setelah Perang Saudara. Sebelumnya, koalisi antiperbudakan dalam partai tersebut menyatukan dua gagasan yang berbeda: Free Labor dan Free Soil. Gagasan Free Labor menolak perbudakan terutama karena alasan ekonomi, yakni perlunya persaingan antara pekerja bebas, petani mandiri, dan pengusaha kecil. Sementara itu, gerakan Free Soil menentang perbudakan berdasarkan pertimbangan moral dan keagamaan.
Persaingan, Tuduhan Sulit Berasimilasi dan Diskriminasi terhadap Imigran Tionghoa
Ketika imigran Tionghoa hadir dalam jumlah yang semakin besar, argumen tentang persaingan tenaga kerja bebas mulai diarahkan kepada mereka. Para pekerja Tionghoa dituduh mengambil pekerjaan warga kulit putih dan dianggap sulit berasimilasi. Di sejumlah wilayah, sentimen antiimigran berkembang menjadi gerakan politik dan kekerasan.
Organisasi buruh Knights of Labor, misalnya, mengecualikan pekerja Tionghoa meskipun menerima anggota kulit hitam. Anggotanya juga terlibat dalam pengusiran paksa pekerja Tionghoa dari sejumlah kota pertambangan di perbatasan California dan Oregon. Pada dekade 1880-an, kelompok Republik di New England menjadi salah satu kelompok yang tersisa dalam menentang Chinese Exclusion Act. Kelompok ini juga masih mempertahankan tradisi Free Soil
Undang-undang tersebut merupakan salah satu langkah besar pertama pemerintah federal Amerika dalam mengatur imigrasi. Tujuannya bukan sekadar mengendalikan jumlah pendatang, melainkan hampir sepenuhnya menghentikan kedatangan orang Tionghoa. Aturan itu terutama menyasar kelompok yang disebut sebagai “pekerja” dan mempersulit kedatangan perempuan Tionghoa. Pembatasan terhadap perempuan juga berfungsi mencegah terbentuknya keluarga Tionghoa yang menetap secara permanen di Amerika.
Namun, undang-undang tersebut menggunakan kategori yang tidak jelas dan tidak selalu menjelaskan mekanisme pelaksanaannya. Akibatnya, pengadilan dibanjiri perkara dari orang-orang yang ditahan atau ditolak masuk kembali ke Amerika. Perkara-perkara tersebut memunculkan pertanyaan penting: siapa yang dapat disebut sebagai pekerja terlarang, bagaimana status itu dibuktikan, dan bagaimana nasib istri serta anak-anak dari penduduk yang telah tinggal secara sah di Amerika?
Imigran Tionghoa dan prinsip kewarganegaraan berdasarkan tempat lahir
Salah satu persoalan hukum paling penting yang muncul dari kebijakan eksklusi tersebut adalah kewarganegaraan berdasarkan tempat lahir (birthright citizenship).
Pada 1884, perkara Look Tin Sing menjadi salah satu pengujian awal. Look Tin Sing adalah anak berusia 14 tahun yang lahir di Amerika Serikat dan ditolak masuk kembali setelah tinggal selama lima tahun di Tiongkok. Meskipun kedua orang tuanya belum memperoleh naturalisasi, pengadilan memutuskan bahwa ia harus diizinkan kembali ke Amerika dengan merujuk pada Amendemen Keempat Belas Konstitusi Amerika Serikat.
Menariknya, perkara tersebut juga memperoleh dukungan melalui amicus brief dari William Stewart, mantan senator Nevada yang sebelumnya dikenal menentang naturalisasi imigran Tionghoa. Stewart memperingatkan bahwa penolakan terhadap status kewarganegaraan Look Tin Sing dapat berdampak luas, sebab terdapat jutaan anak kulit putih yang lahir di Amerika dari orang tua yang belum dinaturalisasi.
Perkara United States v. Wong Kim Ark 1898
Perkembangan penting berikutnya terjadi dalam perkara United States v. Wong Kim Ark pada 1898. Mahkamah Agung Amerika Serikat menegaskan bahwa anak yang lahir di Amerika dari orang tua berkewarganegaraan asing tidak dapat begitu saja dikecualikan dari status warga negara. Pengadilan juga menunjukkan konsekuensi yang lebih luas: jika prinsip tersebut ditolak, kewarganegaraan juga dapat dipersoalkan terhadap ribuan orang yang memiliki orang tua keturunan Inggris, Skotlandia, Irlandia, Jerman, atau Eropa lainnya.
Perkara Wong Kim Ark memperlihatkan bahwa prinsip kewarganegaraan berdasarkan tempat lahir tidak muncul secara tiba-tiba atau semata-mata sebagai hasil perluasan kewenangan pengadilan. Prinsip tersebut berkembang melalui perdebatan panjang mengenai imigrasi, ras, kewarganegaraan, dan makna Amendemen Keempat Belas.
Sejarah ini relevan dengan perdebatan kontemporer di Amerika Serikat mengenai upaya membatasi birthright citizenship. Salah satu argumen yang digunakan untuk mendukung pembatasan tersebut adalah bahwa imigran tanpa dokumen atau penduduk sementara tidak sepenuhnya berada dalam yurisdiksi Amerika Serikat. Oleh karena itu, anak-anak mereka dianggap tidak memenuhi syarat untuk memperoleh kewarganegaraan berdasarkan tempat lahir.
Namun, sejarah yang diuraikan Luo menunjukkan bahwa persoalan imigrasi telah dipertimbangkan ketika Kongres menyusun, memperdebatkan, dan meratifikasi Amendemen Keempat Belas serta Amendemen Kelima Belas. Kekhawatiran mengenai pemberian hak kewarganegaraan dan hak memilih kepada imigran Tionghoa bahkan hampir menghambat proses pengesahan Amendemen Kelima Belas. Artinya, konsekuensi konstitusional dari amendemen tersebut bukan sesuatu yang sama sekali tidak dipahami oleh para pembentuknya.
Kebijakan Eksklusi Imigran Tionghoa dan Dampaknya
Sejarah pelaksanaan Chinese Exclusion Act juga memperlihatkan bahwa sistem hukum dapat bertahan dalam ketegangan antara prinsip konstitusional dan kebijakan diskriminatif. Undang-undang yang tidak jelas, kategori hukum yang kabur, pengadilan imigrasi yang terbebani, serta perdebatan mengenai konstitusionalitas kebijakan memiliki kemiripan dengan persoalan yang masih muncul dalam politik imigrasi masa kini.
Pada periode 1890–1920, jumlah penduduk dan warga negara keturunan Tionghoa di Amerika Serikat menurun dari sekitar 107.000 menjadi 62.000 orang. Kebijakan eksklusi terhadap orang Tionghoa kemudian menjadi salah satu model bagi pembatasan imigrasi yang lebih luas pada 1921 dan 1924, yang juga menyasar imigran dari wilayah Eropa selatan dan timur.
Akan tetapi, pembatasan tersebut tidak berhasil menciptakan Amerika yang homogen. Populasi Tionghoa-Amerika kembali bertumbuh, terutama melalui generasi yang lahir di Amerika Serikat dan telah berstatus warga negara. Hal ini menunjukkan bahwa menutup pintu imigrasi tidak serta-merta menghapus keragaman yang telah terbentuk dalam sejarah masyarakat Amerika.
Di sinilah pentingnya melihat sejarah imigrasi bukan hanya melalui jumlah pendatang, undang-undang, dan keputusan pengadilan, tetapi juga melalui kehidupan manusia yang terdampak oleh kebijakan tersebut.
Sejarah hukum tetap membutuhkan kisah manusia
Salah satu kekuatan utama buku Luo terletak pada kisah individu yang menghidupkan pengalaman imigran Tionghoa. Para pekerja rel kereta api seperti Mock Chuck dan Jow Kee, Ah Toy yang menjalani kehidupan penuh perlawanan dan perubahan, serta Yung Wing yang berusaha menjembatani dua negara dan kebudayaan, memperlihatkan bahwa imigran Tionghoa bukan sekadar objek kebijakan.
Kisah para penyintas kerusuhan di Rock Springs, Wyoming, pada 1885 juga memperlihatkan daya tahan komunitas Tionghoa. Bahkan ketika telah berusia lanjut, sebagian dari mereka tetap bekerja dan tidak meninggalkan wilayah tersebut. Mereka ikut membentuk sejarah tempat itu, sebagaimana para pekerja keturunan Skotlandia-Irlandia di West Virginia atau imigran Italia yang bekerja di pertambangan Pennsylvania.
Wall menilai bahwa perhatian terhadap kehidupan manusia tersebut mulai berkurang ketika buku memasuki pembahasan mengenai Chinese Exclusion Act dan Geary Act. Dampak kedua undang-undang itu lebih banyak disajikan melalui angka dan perkembangan hukum daripada melalui pengalaman orang-orang yang menanggung akibatnya.
Ia juga menilai bahwa kisah komunitas Tionghoa di luar San Francisco dan Los Angeles belum mendapatkan perhatian yang memadai. Chinatown di New York, misalnya, telah muncul sebagai komunitas yang relatif mapan dalam uraian buku. Padahal, perbandingan antara komunitas Tionghoa di New York dan San Francisco dapat memperlihatkan pengalaman yang berbeda, termasuk perjalanan melalui jalur darat ke arah timur, pekerjaan di usaha binatu perkotaan, dan proses pembangunan kembali komunitas setelah gempa bumi San Francisco 1906.
Pada akhirnya, sejarah imigrasi Tionghoa mengingatkan kita bahwa orang-orang yang datang untuk menemukan Amerika juga ikut membentuk Amerika. Mereka bukan hanya bagian tambahan dalam sejarah nasional, melainkan turut menentukan bagaimana bangsa tersebut memahami tenaga kerja, ras, kewarganegaraan, dan demokrasi.
Imigrasi bukan sekadar satu bab dalam kisah Amerika. Imigrasi merupakan bagian dari kisah itu sendiri—kisah yang terus ditulis ulang melalui setiap kedatangan baru.




